TUGAS KESEHATAN MENTAL

Standard

Persepsi Terhadap Penyimpangan Seragam dan Peraturan di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP)

Aulia Dirayati Putri

11512249 / 2 PA07

Latar Belakang

DSC00072

Seragam sangat berkaitan dengan peraturan, contohnya jika peraturan sekolah menetapkan saat hari Jumat seluruh murid memakai pakaian Muslim bagi yang beragama Islam maka pihak sekolah juga akan membuatkan seragam sekolah yang di khususkan bagi muridnya yang beragama Islam dan juga yang Non-Islam. Jika seragam untuk yang beragama Islam adalah lengan panjang, rok panjang, dan kerudung bagi yang perempuan maka untuk murid Non-Islam perempuan akan memakai yang lengan pendek dan rok panjang saja; untuk murid laki-laki yang beragama Islam memakai baju koko (baju muslim untuk laki-laki) serta celana panjang maka untuk murid laki-laki yang beragama Non-Islam akan memakai kemeja lengan pendek dengan celana panjang. Jika ada yang melanggar peraturan tersebut atau tidak memakai baju yang ditetapkan oleh sekolah maka murid tersebut akan ditegur/dihukum oleh pihak sekolah atau merasa malu karena salah kostum. Tanpa sadar perilaku kita ketika memakai seragam dengan tidak memakan seragam sangat berbeda, contoh yang sangat sederhana dan sering kita temukan adalah anak sekolah. Jika sedang memakai baju seragam sekolah dan ingin berangkat ke sekolah perilaku anak sekolah yang memakai seragam akan terlihat manis karena baju seragam sekolah di Indonesia memang rata-rata sopan dan tertutup apalagi jika memakai atribut lengkap (rompi, dasi, ikat pinggang, dsb), tetapi jika anak sekolah tersebut bermain bersama teman-temannya dengan tidak menggunakan seragam sekolah perilakunya akan sedikit cuek karena merasa jika sudah tidak memakai seragam maka peraturan sekolah sudah tidak berlaku, padahal di luar sekolahpun ada peraturan seperti peraturan bersosialisasi, peraturan lalu lintas, peraturan di rumah atau dengan keluarga, dan lain sebagainya. Setiap individu juga memiliki persepsi sendiri tentang penggunaan seragam dan peraturan yang berkaitan dengan seragam tersebut.Persepsi setiap individu memang tidak dapat disalahkan, karena individu memiliki karakter yang berbeda dan persepsi juga lahir dari pengalaman. Begitu juga dengan persepsi terhadap penyimpangan seragam dan peraturan di salah satu Perguruan Tinggi Kedinasan (PTK) di daerah Marunda, Jakarta Utara yaitu Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) yang pada akhir bulan April lalu menjadi perbincangan di media-media walaupun kasus serupa ini sudah pernah terjadi beberapa tahun yang lalu bahkan sering terjadi.. Penyimpangan yang terjadi terhadap seragam ini ialah, mereka melupakan norma moral, norma agama, norma sosial di masyarakat ketika mereka menjadi anggota sekolah STIP dan memakai seragam sekolah tersebut.Akibat hal tersebut, mereka malah melakukan dan lebih mematuhi “peraturan yang dibuat” oleh kakak tingkat atau kakak kelas mereka.Para mahasiswa STIP sudah sangat terkenal dengan tindakan kekerasan di dalamnya, bisa dibilang ini merupakan rahasia umum.

Kasus Dimas Dikita Handoko (Taruna STIP)

 

84871_kekerasan_di_stip__jakarta_300_225

Gambar diatas merupakan kejadian ketika kakak kelas atau kakak tingkat (pelaku) melakukan tindakan kekerasan kepada adik tingkatnya (korban). Ketika melakukan tindakan tersebut, para korban akan berbaris berjajar dengan para pelaku.

Pada akhir bulan April lalu yaitu para pelajar STIP yang merupakan senior, menganiaya para juniornya dengan alasan para junior tersebut kurang hormat terhadap mereka.Penganiayaan pada bulan April lalu berujung pada kematian salah satu junior yaitu bernama Dimas Dikita Handoko (biasa dipanggil Dimas).Dimas merupakan taruna (mahasiswa) tingkat 1 di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP). Kejadian ini berlangsung di kosan seniornya, pada saat malam hari.Berdasarkan cerita dari ibu Dimas, pada saat sebelum kejadian Dimas dan orangtua nya sempat kontak untuk bertemu.Dimas sangat rindu dengan masakan rending buatan ibunya, dan ibunya juga rindu dengan Dimas sehingga memutuskan untuk dating ke Jakarta bersama ayah Dimas.Namun, Dimas ijin (ke ibunya) untuk bertemu dengan temannya lalu ibunya mengijikan tetapi berpesan untuk jangan terlalu malam. Ketika jam sudah menunjukkan waktu dini hari, Dimas belum kunjung datang menemui orangtuanya. Tiba-tiba saja ada telephone yang mengaku pihak polisi, dan menyuruh orangtua Dimas untuk segera datang ke Rumah Sakit Pelabuhan Jakarta karena Dimas berada disana dan sudah tidak bernyawa.Namun, orangtua Dimas tidak percaya dan langsung menutup telephone tersebut. Tetapi, polisi tersebut menelephone lagi dan memohon orangtua Dimas untuk datang.Lalu orangtua Dimas akhirnya datang dan sangat shock bahwa anaknya sudah tidak bernyawa. Padahal orangtua Dimas sangat mengharapkan untuk bertemu dengan putra sulungnya. Sebelum kejadian polisi datang ke Rumah Sakit, pihak dokter yang memeriksa Dimas curiga karena teman-teman Dimas yang membawa Dimas ke Rumah Sakit dalam keadaan babak belur juga, namun ada satu anak yang tidak. Teman-teman Dimas bilang pada dokternya bahwa Dimas terpeleset di kamar mandi, namun dokter curiga karena jika terpeleset di kamar mandi lukanya terlalu parah.Akhirnya dokter menelfon kepolisian dan melaporkan dugaan penganiayaan. Sementara saat penganiayaan berlangsung di kosan senior, para taruna senior tersebut menyalakan lagu dengan volume sangat kencang sehingga orang-orang disekitar kosan tersebut tidak mengetahui adanya kekerasan disana.Dimas mengalami luka akibat pukulan yang dideritanya, mulai dari perut, dada, hingga ulu hati. Dia juga sempat jatuh pingsan setelah menerima pukulan. Namun para pelaku terus memukuli hingga akhirnya dibawa ke RS Pelabuhan Jakarta. Sayang nyawa Dimas tak tertolong sebelum menjalani pemeriksaan dokter pada Sabtu 26 April dini hari.( http://news.liputan6.com/read/2043086/terulangnya-kekerasan-taruna-stip#sthash.024WSlhR.dpuf)

1398839848.1

Diduga penganiayaan tersebut merupakan kekerasan yang direncanakan, karena ibu dari Dimas memberikan bukti berupa tweet dari senior Dimas yang merencakan penganiyaan tersebut. Dimas dianiaya tujuh seniornya (ANG, FACH, AD, Sat, Widi, Dw, dan Ar) yang kini sudah ditangkap polisi. Akibat perbuatannya, para pelaku dijerat pasal 353 KUHP dan pasal 351 ayat 2 KUHP tentang penganiayaan yang menyebabkan orang lain meninggal dunia dengan ancaman hukuman di atas lima tahun penjara (http://www.jpnn.com/m/news.php?id=231285).

Teori yang Terkait oleh Kasus

Jika di Psikologi Perkembangan 2 terkenal dengan Formal Operation yang dikemukakan oleh David Elkind (dalam Papalia, Olds, Feldman (2009) Human Development, Buku 2, Edisi 10) , hal yang dilakukan oleh mahasiswa STIP yang masih bisa dibilang remaja atau dewasa awal ini merupakan adanya egocentrism, yaitu para remaja merasa dirinya special dan ingin menunjukkan eksistensi dirinya dengan cara hal seperti itu, tidak memikirkan dampak yang diakibatkan jika melakukan hal tersebut walaupun ia tahu bahwa hal tersebut menyimpang dan menyalahi aturan.

Berkaitan dengan teori behaviorisme yaitu menurut Skinner (dalam Riyanti, B.P. & Prabowo, Hendro.Psikologi Umum 2. 1998) perilaku yang dilakukan berdasarkan dengan pengalaman individu, sedangkan menurut Bandura (dalam Baron & Byrne (2005) Psikologi Sosial Jilid 2, cet. 10) adanya social learning, yaitu perilaku dilakukan berdasarkan adanya pengamatan dan mengimitasi perilaku yang dilihat dan dialami. Sehingga menurut saya kaitan dari teori ini ialah mahasiswa STIP melakukan tindakan kekerasan karena mereka telah belajar bahwa setiap angkatan dibawah mereka adalah milik mereka sehingga mereka bebas untuk melakukan apa saja karena ketika mereka diposisi tersebut sebelumnya sudah pernah mengalami dan diperlakukan seperti itu.

Selanjutnya, hal ini juga berkaitan dengan teori psikodinamika Sigmund Freud. Kecenderungan agresi kepada orang lain dikarenakan id, ego, dan superego tidak terintegrasi dengan baik (Freud, dalam Teori Kepribadian, Buku 1, Edisi 7, 2012). Individu yang dominan dengan id cenderung akan berperilaku sesukanya dan semaunya asalkan individu tersebut merasa senang dan puas, tidak peduli dengan orang lain.  

PENUTUP

Kesimpulan

Persepsi terhadap penyimpangan seragam dan peraturan di STIP merupakan persepsi yang menjadi umum di masyarakat karena kasus yang dialami oleh Dimas sudah pernah terjadi sebelumnya. Tetapi walaupun Perguruan Tinggi tersebut telah menelan beberapa korban, tetap banyak yang mendaftar dan para taruna yang sukses setelah lulus dari Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP). Berdasarkan kasus Dimas, jika ditinjau dan dilihat dari sudut pandang ilmu Psikologi termasuk ke dalam beberapa teori yang sudah disebutkan yaitu, teori behaviorisme dari Skinner, social learning oleh Bandura, Formal Operation yang dikemukakan oleh David Elkind, serta psikologi perkembangan yaitu dari Sigmund Freud teori psikodinamika. Saran Beberapa saran yang terkait dengan kasus Dimas yaitu :

  1. Saat hal tersebut terjadi, walaupun diluar institusi tetapi hal tersebut merupakan tanggung jawab pihak kampus terutama rektor, dan kasus Dimas bukan yang pertama. Sehingga saat sudah terdapat kasus kematian taruna STIP yang dilakukan oleh beberapa seniornya tersebut, pihak rektor juga harus dicopot jabatannya karena beliau bertanggung jawab atas kampus.
  1. Kasus kematian ini memang bukan budaya, tetapi menurut sebagian masyarakat luar STIP kasus kekerasan dalam institusi tersebut merupakan budaya sehingga hal tersebut harus dihentikan. Kekerasan yang berujung pada kematian tidak harus terus berlanjut hingga ke depannya.

    DAFTAR PUSTAKA

Baron & Byrne (2005) Psikologi Sosial Jilid 2, cet. 10. Jakarta: Erlangga.

Feist & Feist.Teori Kepribadian, Buku 1, Edisi 7. 2012. Jakarta: Salemba Humanika.

Feist & Feist.Teori Kepribadian, Buku 2, Edisi 7. 2013. Jakarta: Salemba Humanika.

Riyanti, B.P. & Prabowo, Hendro (1998) Psikologi Umum 2. 1998. Jakarta Universitas Gunadarma.

Papalia, Olds, Feldman (2009) Human Development, Buku 2, Edisi 10. Jakarta: Salemba Humanika.

http://www.tribunnews.com/metropolitan/2014/04/28/kasus-kekerasan-di-stip-pernah-terjadi-2008-silam

http://news.liputan6.com/read/2043086/terulangnya-kekerasan-taruna-stip

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s