Kegelisahan yang Dialami Manusia pada Tingkat Umur Tertentu

Standard

Pengertian Kegelisahan

 

Di dunia ini tidak ada seorang  manusia pun yang tidak merasakan kegelisahan. Bila kita melihat seluruh makhluk yang hidup di muka bumi ini akan kita dapati bahwa manusia dengan tabiatnya senantiasa dipengaruhi oleh kompleksitas ketakutan yang menuntunnya ke ambang kegelisahan.

Kegelisahan berasal dari kata gelisah yang berarti tidak nyaman, tidak tentram hatinya, selalu merasa khawatir, tidak tenang, tidak sabar, cemas. Kegelisahan (juga disebut kecemasan atau khawatir) adalah keadaan psikologis dan fisiologis ditandai dengan somatik, emosional, komponen kognitif, dan perilaku.

Kegelisahan hanya dapat diketahui dari gejala tingkah laku atau gerak-gerik seseorang dalam situasi tertentu. Gejala tingkah laku atau gerak-gerik itu umumnya lain dari biasanya, misalnya berjalan mondar-mandir dalam ruangan sambil memnundukkan kepala; memandang jauh kedepan sambil mengepal-ngepalkan tangan; duduk termenung sambil memegang kepalanya; duduk dengan wajah murung atau sayu, dan sebagainya.

Orang-orang disekeliling kita –bahkan diri kita sendiri-, baik besar maupun kecil, tua maupun muda, laki-laki maupun perempuan, semuanya merasakan ketakutan atau kegelisahan; kegelisahan merupakan fenomena umum dan cirri khas yang hanya dimiliki manusia. Hal ini kiranya memerlukan semacam kesadaran diri kita guna memikirkan kiat-kiat untuk menghindarinya, paling tidak dengan itu kita bisa membayangkan kejadian-kejadian yang belum terjadi dan bagaimana cara menanggulanginya. Sebab pada hakikatnya kegelisahan merupakan reaksi natural terhadap faktor-faktor dan pengaruh-pengaruh internal maupun eksternal.

 

Macam-macam Kecemasan

 

Sigmund Freud ahli psikoanalisa berpendapat bahwa ada tiga macam kecemasan yang menimpa manusia, yaitu:

  1. Kecemasan Obyektif (Kenyataan)

Kecemasan tentang kenyataan adalah suatu pengalaman perasaan sebagai akibat pengamatan atau suatu bahaya dalam dunia luar. Bahaya adalah sikap keadaan dalam lingkungan seseorang yang mengancam untuk mencelakakannya. Pengalaman bahaya dan timbulnya kecemasan mungkin dari sifat pembawaan, dalam arti kata, bahwa seseorang mewarisi kecenderungan untuk menjadi takut kalau ia berada dekat dengan benda-benda tertentu atau keadaan tertentu dari lingkungannya.

Kenyataan yang pernah dialami seseorang misalnya pernah terkejut waktu diketahui dipakaiannya ada kecoa. Keterkejutannya itu demikian hebatnya, sehingga kecoa merupakan binatang yang mencemaskan. Seseorang wanita yang pernah diperkosa oleh sejumlah pria yang tidak bertanggung jawab, sering ngeri melihat pria bila ia sendirian, lebih-lebih bila jumlahnya sama dengan yang pernah memperkosanya. Kecemasan akibat dari kenyataan yang pernah dialami sangat terasa bilamana pengalaman itu mengancam eksistensi hidupnya. Karena seseorang tidak mampu mengatasinya waktu itu, terjadilah kemudian apa yang disebut stress. Kecemasan yang dialami oleh seorang bayi atau anak kecil dan sangat berkesan akan nampak kembali pada waktu  ia sudah dewasa, misalnya ia mendapat perlakuan yang kejam dari ayahnya. Mungkin ia selalu cemas bila berhadapan dengan orang yang seusia ayahnya, tetapi ada pula yang  memberikan reaksi membalik: karena ia mendendam, maka ia berusaha selalu untuk ganti berbuat kejam sebagai pelampiasannya.

 

  1. Kecemasan Neuorotis (Syaraf)

Kecemasan ini timbul karena pengamatan tentang bahaya dari naluriah. Menurut Sigmund Freud, kecemasan ini dibagi tiga macam, yakni:

  1. Kecemasan yang timbul karena penyesuaian diri dengan lingkungan. Kecemasan timbul  karena  orang itu takut akan bayangannya sendiri atau takut akan identitasnya sendiri, sehingga menekan dan menguasai ego. Kecemasan semacam ini menjadi sifat dari seseorang yang gelisah, yang selalu mengira bahwa sesuatu  yang hebat akan terjadi.
  2. Bentuk ketakutan yang tegang dan irrasional (phobia). Bentuk khusus dari phobia adalah,  bahwa  intensitas ketakutan melebihi  proporsi  yang sebenarya dari  obyek yang ditakutkannya.
  3. Rasa  takut  lain  ialah  rasa  gugup,  gagap dan  sebagainya.  Reaksi  ini  munculnnya secara tiba-tiba tanpa ada provokasi yang tegas. Reaksi gugup ini adalah perbuatan meredekan diri yang bertujuan untuk membebaskan seseorang dari kecemasan neuorotis yang sangat menyakitkan dengan jalan melakukan sesuatu yang dikehendaki oleh identitas meskipun ego dan superego melarangnya.

 

  1. Kecemasan Moril

Kecemasan moril disebabkan karena pribadi seseorang. Tiap pribadi memiliki bermacam-macam emosi  antara lain, yakni  iri, benci, dendam, dengki, marah, gelisah, cinta, atau rasa kurang. Rasa iri, benci, dengki, dendam itu merupakan sebagian dari pernyataan individu secara keseluruhan berdasarkan konsep yang kurang sehat. Oleh karena itu sering alasan untuk  iri, benci, dengki  itu kurang dapat dipahami orang lain.

Sifat-sifat seperti itu adalah sifat yang tidak terpuji, bahkan mengakibatkan manusia akan  merasa  khawatir,  takut,  cemas,  gelisah dan putus  asa.  Misalnya  seseorang  yang merasa dirinya kurang cantik, maka dalam pergaulannya ia terbatas bila tidak tersisihkan, sementara itu ia pun tidak berprestasi dalam berbagai kegiatan, sehingga kawan-kawannya lebih dinilai sebagai lawan. Ketidakmampuannya menyamai kawan-kawannya demikian menimbulkan kecemasan moril.

 

Contoh Kegelisahan Manusia pada Tingkat Umur Tertentu

 

Sebuah keluarga yang terdiri dari ibu yang bernama Susan dan ayah yang bernama Fandi, serta anak mereka Siska yang berumur 5 tahun dan Faris 17 tahun. Susan dan Fandi sudah menikah selama 19 tahun, tetapi dalam pernikahan yang hampir menginjak 20 tahun ini sedang dalam masa yang tidak harmonis, mereka sering bertengkar ketika bertemu dan hal ini sering dilihat oleh anak-anak mereka, Siska dan Faris. Anak-anak mereka tentunya menjadi gelisah, takut kedua orangtuanya bercerai, dan mereka harus tinggal terpisah dari salah satu orangtuanya.

Fandi sebagai anak tertua tentunya tidak ingin melihat adiknya sedih juga dan gelisah seperti dirinya, maka dari itu suatu hari Fandi membelikan adiknya boneka Barbie.

            Susan dan Fandi sebagai orangtua juga menjadi gelisah karena ketidak-harmonisan keluarganya ini, mereka tidak ingin anak-anak mereka sedih, stress, apalagi mereka juga tidak ingin anak-anak mereka memilih untuk tinggal dengan siapa ketika mereka bercerai.

 

Cerita diatas adalah salah satu contoh kegelisahan pada tingkat umur tertentu ketika sedang dalam keluarga yang tidak harmonis.

 

Referensi        :

http://yodi-adhari.blogspot.com/2010/04/pengertian-kegelisahan.html

http://triautisman.blogspot.com/2012/06/pengertian-kegelisahan.html

http://hadi-detected.blogspot.com/2011/06/pengertian-kegelisahan.html

http://saputridella.blogspot.com/2012/11/kegelisahan-yang-di-alami-manusia-pada.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s