Tawuran Pelajar : Perilaku Anarkis Generasi Muda

Standard

Pendahuluan

Masih tingginya frekwensi tawuran di kalangan pelajar DKI Jakarta sungguh memprihatinkan, apalagi tingkat kekerasannyapun makin sadis dengan menggunakan perlengkapan tawuran yang diciptakan dengan tujuan melukai –bahkan kalau bisa membunuh—lawan. Tawuran pun meluas lokasinya, terjadi di banyak wilayah dan di berbagai daerah di Indonesia, hanya saja tidak selalu terekspose media. Dalam satu tahun, tawuran pelajar di DKI Jakarta saja sudah memakan 16 pelajar meninggal dunia.

Tawuran yang kerap diangkat media massa karena frekwensinya yang sering terjadi adalah tawuran antara SMAN 6 dan SMAN 70 Jakarta. Untuk SMAN 70, tampaknya ada masalah yang tak coba diselesaikan benang merahnya—terkesan terjadi pembiaran—karena sudah berlangsung selama hampir 20 tahun. Sehingga kasus tawuran begitu tinggi, bahkan September 2012 ini telah merengut nyawa satu siswa. Beberapa kasus tawuran pelajar di DKI Jakarta terjadi juga di beberapa wilayah seperti Jakarta Barat, Jakarta Pusat dan Jakarta Timur. Uniknya, terjadi peningkatan tawuran pada saat ujian nasional (UN) berakhir dan pada saat kenaikan kelas.  Jadi, ada apa dengan pendidikan kita?

Dari kajian yang dilakukan FMGJ (Forum Musyawarah Guru Jakarta), ada beberapa indikasi masalah yang menjadi penyebab kekerasan dalam dunia pendidikan, yaitu sebagai berikut  :

  1. Pendidikan tidak dialogis tapi searah

Peserta didik tidak terbiasa menggunakan mulutnya untuk berdialog, akhirnya tangan dan kaki yang digunakan untuk menyelesaikan masalah. Selain itu, kekerasan di sekolah ini muncul karena tidak adanya relasi seimbang antara guru dengan murid dan antara murid dengan murid, serta guru dengan pimpinan sekolah. Akibatnya, guru terkadang bertindak “menindas” muridnya. Beberapa kasus kekerasan ini mngemuka di media karena orangtuanya melakukan pelaporan kepada KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia), namun kasus yang tidak mengemuka karena orangtua takut anaknya diintimidasi sangat banyak. Kasus terakhir muncul di salah satu SD di wilayah Semper Jakarta Utara, yaitu kasus ibu Rohani. Sayangnya tak ada tindakan tegas oleh birokrasi, sehingga mengorbankan anak didik. Seharusnya, pemerintah DKI Jakarta menyatakan dengan  tegas bahwa “Sekolah adalah zona nyaman, tidak boleh ada kekerasan di sekolah dalam bentuk apapun dan dengan alasan apapun”, ketegasan ini didasarkan pada UU Perlindungan Anak pasal 54 serta konvensi internasional tentang perlindungan anak yang sudah di tandatangani oleh Indonesia.

  1. Sistem Pendidikan tidak membuat peserta didik kritis.

Jam belajar yang lama dan mata pelajaran yang banyak, ditambah berat pada materi membuat peserta didik tertekan dan stress, sehingga mudah meletupkan emosi. Selain itu, mereka pun terpaksa harus mengikuti bimbingan belajar karena tuntutan ujian nasional. Tidak ada ruang bagi peserta didik untuk mengoptimalkan potensinya, dan tidak ada waktu anak untuk berorganisasi.

  1. Pendidikan tidak mempertajam pikiran dan menghaluskan perasaan.

Sistem pendidikan cenderung memaksa dan tidak menghargai keberagaman, sehingga persatuan dan kesatuan di negeri yang sangat majemuk ini belum tercipta meski kita sudah merdeka 67 tahun.

 

Kekerasan Di Sekolah Di Mulai dengan Bullying

Salah satu bentuk kekerasan yang terjadi di sekolah yang kemudian menjadi cikal bakal terjadinya tawuran pelajar adalah “bully” atau terkadang disebut juga sebagai “bullying”.  Bully adalah penyiksaan mental dan fisik yang kerap terjadi di sekolah atau kampus, maksud mereka (pelaku bullying) melakukan bullying adalah untuk menjatuhkan mental sesama. Pelaku bullying di sekolah bisa saja sesama teman, kakak kelas (senior), guru, kepala sekolah, dan lain-lain.

Kekerasan atau bullying tidak hanya berdampak fisik terhadap si korban, tetapi bullying verbal bisa berakibat si korban bunuh diri. Bullying verbal adalah kekerasan melalui perkataan, contohnya adalah menjelekkan atau mengatai teman dengan perkataan yang sangat tidak sopan dan menghargai temannya. Korban bullying akan merasa syok dan terganggu jiwanya, dan korban tidak akan berani mengadukan kekerasan yang dialaminya karena akan berhadapan dengan polisi.

Bullying itu bisa berupa pengucilan, pelecehan, pemalakan, intimidasi, ejekan, gosip, fitnah, sampai kekerasan fisik. Semakin si korban merasa tertekan atau takut, semakin senang pelaku bullying

 

Korban sekaligus Pelaku

Dalam kasus bullying bisa jadi pelaku sebenarnya juga korban bullying. Misalnya, siswa yang di rumah dijadikan bulan-bulanan orangtua/ortu (berarti korban), bisa mengalihkan rasa kesalnya dengan menggertak teman di sekolah (pelaku). Siswa yang dengan entengnya memukul teman, kemungkinan si siswa  sering dipukul orangtuanya meski hanya untuk hal sepele.

Relasi yang tak setara, baik antarsiswa maupun antara siswa dan guru, di sekolah dinilai sebagai salah satu faktor utama penyebab terjadinya kekerasan di sekolah. Pendidikan yang diterapkan tidak membiasakan siswa berdialog dalam relasinya dengan rekan-rekan sesama siswa dan guru.

Selain itu, kedekatan hubungan keluarga penting untuk membantu anak memiliki rasa aman. Kondisi itu berdampak pada kerja otak yang seimbang, termasuk hormonnya. Biasanya anak jadi percaya diri, mampu berpikir, kreatif, pandai bergaul, dan bersemangat. Potensi dirinya akan muncul, berbagai kecerdasannya siap diasah. Dia siap berprestasi. Kondisi itu tak memandang latar belakang sosial-ekonomi keluarga.

Perilaku keras orangtua kepada anak juga bisa terjadi pada semua kalangan, baik kelas ekonomi atas maupun bawah. Namun yang terburuk, perilaku keras orangtua kepada keluarga dengan tingkat sosial ekonomi rendah. Di sini anak mengalami situasi buruk, yaitu kekerasan dan tekanan ekonomi yang mengimpit batin.

Mengapa bullying muncul terutama saat usia remaja? Karena secara hormonal  remaja sedang mengalami perubahan. Tanpa ada bullying pun, remaja cenderung sensitif dan galau. Apalagi kalau harus menghadapi bullying juga. Anak remaja cenderung mudah terpicu emosinya, dan bereaksi sesuai dasar kepribadian masing-masing.

 

Kemungkinan reaksi itu ada tiga, yakni Fight (yang berarti ia melawan, menunjukkan rasa marah dengan mengamuk), Flight (melarikan diri dari luka batin, ini bisa ke arah negatif seperti narkoba, miras, internet tak sehat/pornografi), dan Freeze (sikapnya ”membeku”, ia kehilangan nalar sehat, tak mampu berpikir, depresi, tak termotivasi untuk hidup).Kalau korban bullying memilih Fight, dia akan mengeluarkan energi marahnya tanpa rasa takut. Ini lalu membuat dia jadi pelaku bullying. Tetapi kalau korban bereaksi Freeze, dia benar-benar korban yang memerlukan empati, bahkan pada tingkat yang lebih parah bisa mengalami depresi.

 

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                             Berdampak panjang

Banyak alasan pelaku bullying, di antaranya ingin mendisiplinkan yunior, pengin unjuk kuasa, kesal pada bahasa tubuh atau tingkah laku korban. Di sisi lain, sasaran sebagai korban bullying bisa siapa saja. Misalnya, mereka yang dianggap pelaku secara fisik tampak lebih lemah, menjengkelkan, tak mampu berinteraksi dengan pelaku, sampai pada hal fisik seperti gendut dan gagap.

Kondisi itu diperburuk penilaian di sekitar kita yang tak menjadikan bullying sebagai masalah. Akibatnya, sampai menjadi mahasiswa, bahkan sudah bekerja pun, korban bullying tetap tak mampu membela diri. Sedangkan pelaku bullying (karena tak merasa bersalah dan tak pernah dikoreksi ortu/guru) makin menjadi-jadi, kekerasan menyatu dalam kepribadian mereka.

Bullying di sekolah biasanya dimulai pada saat masa orientasi siswa (MOS atau OSPEK), siswa kelas X atau mahasiswa baru harus menerima apa pun perlakuan dari seniornya. Mereka tampak tak berdaya. Saat inilah awal bullying berkelanjutan atau lingkaran bullying terjadi. Di sini para senior mendapatkan korban empuk untuk dijadikan sasaran kemarahan atau kekecewaan, yang umumnya mereka bawa dari rumah. Hal yang merisaukan adalah, perilaku jagoan dari senior itu menjadi teladan bagi yuniornya, yang langsung meniru begitu ada kesempatan. Apalagi kalau para senior memang berniat merekrut yunior untuk meneruskan tradisi kekerasan, maka makin sulit memutus rantai kekerasan tersebut, inilah yang kemudian menjadi cikal bakal perbuatan anarkis lain, misalnya melakukan tawuran dengan niat melukai bahkan menghabisi nyawan lawan.

Untuk mengurangi bullying, perlu pemahaman tentang perilaku bullying dan seluk beluknya. Ini bisa diajarkan lewat salah satu mata pelajaran di sekolah seperti PPKN atau pendidikan karakter. Juga pengembangan mata pelajaran yang mengasah nurani seperti pendidikan seni, yaitu wadah untuk mengekspresikan diri secara positif, seperti  berteater, bermusik, olahraga, sampai terlibat dalam kegiatan sosial.

 

Penutup : Solusi dan Rekomendasi

            Untuk mengatasi bullying di setiap sekolah maupun di kampus, diperlukan sinergi dan kesungguhan dari semua pihak, mulai dari Menteri Pendidikan dan Kebuayaan (Mendikbud, dinas pendidikan, sekolah, guru  dan  siswa serta didukung masyarakat untuk menolak segala bentuk kekerasan, baik  verbal, fisik maupun psikis.  Berikut ini beberapa hal yang dapat dilakukan sebagai solusi pemecahan masalah kekerasan di sekolah: Pertama. Kemendikbud dan dinas-dinas pendidikan harus membuat pernyataan tegas bahwa “Sekolah merupakan zona nyaman, tak boleh ada kekerasan dalam bentuk apapun (verbal maupun fisik) dan dengan alasan apapun (misalnya dengan alasan mendisiplinkan atau mendidik).  Kedua, Tindak tegas setiap kekerasan yang terjadi di lingkungan sekolah dengan cara-cara yang membangun. Sistem ini harus dibentuk dan di jalankan bersama.  Ketiga, Sekolah jangan melindungi anak-anak yang melakukan kekerasan dengan pertimbangan “nama baik sekolah”, laporkan ke yang berwajib jika tindakan mereka sudah mengarah pada ancaman dan intimidasi yang membahayakan orang lain, sehingga “virus” semacam ini tidak dibiarkan tumbuh subur. Jangan demi pencitraan sekolah namun akan menyuburkan kekerasan di sekolah, pelaku kekerasan harus ditindak tegas. Keempat, Manajemen harus diberi sanksi untuk memberi efek jera juga sehingga tidak memelihara “kekerasan”  di sekolah dan bersungguh-sungguh mencegah “kekerasan” atau tawuran di lingkungan sekolahnya. Manajemen sekolah tidak boleh lepas tangan dengan mengatakan bahwa kejadian tawuran di luar jam belajar, itu bentuk melepar tanggungjawab. Kelima, Kemendikbud harus mengurangi lama  jam belajar agar anak-anak tersalur potensinya untuk mengaktualisasikan diri. Keeenam, Mata pelajaran yang mengasah perasaan seperti seni (rupa, musik, teater) serta menyehatkan jiwa (olahraga) harus diberdayakan dan dijadikan sebagai wahana menyalurkan “rasa tertekan” peserta didik. Karena selama ini, mata pelajaran ini di pinggirkan dan tidak dianggap penting

 

Sumber bacaan :

http://www.tribunnews.com/2012/10/04/fsgi-tolak-kekerasan-atas-nama-pendidikan

http://jakarta.tribunnews.com/2012/10/04/fsgi-kekerasan-dalam-pendidikan-akibat-dialog-searah

http://edukasi.kompas.com/read/2012/10/05/11115054/Lawan.Bullying.Tumbuhkan.Empati

http://edukasi.kompas.com/read/2012/10/04/16124233/Ini.Akibat.Jika.Anak.Tak.Dibiasakan.Berdialog

http://www.republika.co.id/berita/nasional/jabodetabek-nasional/12/10/04/mbde3v-jadikan-sekolah-sebagai-zona-nyaman

http://edukasi.kompas.com/read/2012/10/04/16124233/Ini.Akibat.Jika.Anak.Tak.Dibiasakan.Berdialog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s